Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi, meski aku tahu alamatnya. Bokepindojilbab keras amat.. Kudengar ia terus melenguh keenakan. “Biasa Mbak, setiap Senin begini. “Pacaran asyik ya Mas?” tanyanya sambil memandangiku dan mempererat genggaman ke lenganku. Aku bawakan tasnya yang berisi pakaian menuju kafetaria untuk minum dan meneruskan obrolan yang terputus. Kupandangi langit-langit kamar, dadaku berdetak lebih kencang, pikiranku melayang jauh tak karuan. Makin lama makin cepat, lalu perlahan lagi sambil aku ambil nafas, lalu cepat lagi. Kuperhatikan jarinya yang sedang memegang tempat duduk di depan kami, lentik, bersih terawat dan tidak ada yang dibiarkan tumbuh panjang. geli.. Aduuh.. Akhirnya Mamah menjerit lagi pertanda klimaks telah dicapai. Mungkin terbiasa dengan suami hanya melakukan apa yang diperintahkan saja).




















